Saturday

#ReadbyDis : The Book You Want Everyone You Love To Read (2023)

 



Hi, Insight Seekers!

Ulasan buku kali ini datang Philippa Perry, seorang psikiater dan juga penulis dari salah satu buku favorite gue, The Book You Wish Your Parents Had Read yang sudah pernah gue ulas juga sebelumnya. Pengemasan buku ini hampir mirip dengan buku sebelumnya, pembahasan yang terstruktur dan detail, sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan kepada Perry. Jika dalam buku The Book You Wish Your Parents Had Read, Perry lebih fokus dalam hubungan orang tua dan anak, dalam buku ini Perry membahas hubungan itu sendiri secara general, hubungan kita sebagai orang dewasa, dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Dalam introduction nya, Perry menjelaskan bahwa dalam menghadapi apa yang terjadi dalam hidup ini, kita sering kali bertanya 'Why?' . Mengapa suatu hal terjadi pada kita? Mengapa pasangan kita begini? Mengapa orang tua kita begitu? Dan berbagai pertanyaan mengapa lainnya. Hal ini terjadi karena kita senang dengan sebuah narasi, kita butuh penjelasan sejelas-jelasnya atas apa yang terjadi, atau atas perilaku orang lain terhadap kita. Perry menyarankan, dibandingkan dengan bertanya 'Mengapa', akan lebih baik jika kita bertanya 'Bagaimana'. Bagaimana kita merasakan apa yang kita rasakan? Bagaimana kita memberikan atas suatu hal yang terjadi, atau atas perilaku orang lain? Pertanyaan 'bagaimana' juga menekankan bahwa kita memiliki kontrol penuh atas respon dan perasaan yang ingin kita berikan terhadap suatu hal. Dan dari hubungan yang kita bangun dengan orang-orang di sekitar kita, yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita sendiri, jadi sebaiknya daripada kita terlalu memikirkan 'mengapa', yang tidak bisa kita kontrol, lebih baik kita memikirkan si 'bagaimana' itu sendiri. Untuk membantu kita menjawab pertanyaan 'bagaimana' tersebut, Perry membagi buku ini menjadi 4 bagian ; How We Love, How We Argue, How We Change, dan How We Find Contentment. 

Dalam setiap bagian nya, Perry memberikan banyak penjelasan, yang dilengkapi dengan berbagai contoh kasus yang sangat relatable dengan kehidupan sehari-hari. Tentang membangun hubungan yang sehat, tentang menghadapi konflik baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri, tentang menghadapi perubahan baik yang kita rencanakan maupun yang tidak kita rencanakan, dan tentunya bagaimana kita bisa menemukan inner peace dan makna kehidupan itu sendiri, 

Insight!

"If you are going to have fantasy, make it a good one. Which fantasy you have trained yourself to believe will impact what your energy is like with other people and what they will pick you up on when they are with you."

"Our challenge is to not lose put faith in the inherent goodness of most people. Not all humans are all bad, and some of them are really great and will be fun and interesting"

Dari sekian banyak hal yang dibahas dalam chapter 1 : How We Love, gue akan memulainya dengan satu poin yang ringan, tapi menurut gue, poin ini sangat penting sebelum masuk ke poin-poin selanjutnya. Semakin dewasa, mungkin banyak kesedihan dan kekecewaan yang pernah kita dapatkan dari orang lain, sehingga seringkali kita terlalu berwaspada dan menggenarilisir bahwa semua orang itu jahat, atau semua orang itu menyebalkan. Namun, penting untuk selalu menyisakan ruang untuk percaya bahwa tidak semua orang akan menyakiti kita. Sisakan ruang bahwa ada begitu banyak orang baik dan menyenangkan yang akan kita temui, serta begitu banyak interaksi dan hubungan menyenangkan yang bisa kita bangun dengan orang-orang tersebut Hal ini sangat berguna, karena inilah salah satu hal yang membuat gue bisa memiliki hubungan baik dengan banyak orang ; Gue percaya dengan kebaikan orang, bahwa setiap orang pasti memiliki sisi baik dan menyenangkan. Bagaimana kita memandang orang akan memengaruhi energi yang kita berikan dalam sebuah interaksi dengan orang lain, dan energi itulah yang akhirnya juga memengaruhi bagaimana orang lain memperlakukan kita. 

"Diaphobia; a fear of true dialogue. The fear of being impacted upon or influenced by another person. To surrender is to let go of that fear. To surrender is also to offer something of yourself to the other without knowing how it will land with them. It means lowering your guard, allowing yourself to be vulnerable. It means surrendering to inevitability that other people will not see you as you might want to be seen. It means not demanding of them that they see you as this or that, not focusing on what you're going to say next while someone is talking. Instead, surrendering is opening yourself up to how their words may affect and change you. When you surrender to a conversation you don't know where it will lead because you are open to any outcome. It also means allowing and trusting others to be as they are".

Ah, ini menyentil gue pribadi sebagai si Avoidant yang seringkali menghindari awkward conversation atau percakapan dengan yang 'terlalu serius'. Mungkin iya ada benarnya, bahwa gue menghindari hal ini karena gue terlalu memberi batasan agar orang cukup melihat gue seperti bagaimana gue ingin dilihat saja, dan memberi batasan kepada diri sendiri agar tidak membiarkan orang lain memengaruhi gue. Pembahasan tentang Surrender ini menarik banget, something that I really work on.

"It may be easier to understand another's experience if you can see that we each have a dominant - or preferred - way of coping, These are usually thinking, feeling, or doing. Some of us like to think our way to out of trouble. Others need to explore their feeling first. And others go straight into action mode. I imagine these tree ways of being as doors, and what we need to know is which are open, which are closed, and which are locked."

Di awal chapter  2 : How We Argue, kita akan diajak mengenal dulu bahwa konflik sering terjadi karena perbedaan cara orang dalam menghadapi suatu masalah. Dalam pembahasan ini, gue cukup banyak berefleksi, karena mungkin gue seringkali berusaha memberikan saran kepada orang untuk membuka 'pintu' yang sama dengan gue, tanpa berfikir mungkin 'pintu' yang selama ini gue buka adalah 'pintu' yang orang lain tutup. Just because it works well on me, doesn't mean it will work  well on others. Jadi, dibanding kita berupaya keras untuk memaksakan cara kita kepada orang lain, lebih baik kita berusaha mengenal dan mengerti bagaimana cara yang biasa mereka gunakan dan gunakan cara tersebut dalam berargumen. 

"When we focus on logic rather than feelings, we can fall into a game of what I like to call fact tennis. Fact tennis is when two people in argument are lobbing reasons and facts over the net to each other, finding more and more to hit the other person with. The aim becomes point scoring rather than finding a workable solution.

Put aside rights and wrongs, don't seek to blame and/or get an apology, but try instead to understand. Being right is overrated."

HEHEHE lagi-lagi merasa tersentil :) Saat berargumen, kita harus sadar bahwa kita tidak sedang mencari pemenang, tidak sedang mencari pembuktian siapa yang lebih pandai berdebat, namun mencari solusi untuk kebaikan bersama. Kita tidak perlu menjadi si-yang-paling-benar, tapi jadilah orang yang bisa mengerti . Kalau menurut quotes yang sering gue dengar, 'It's not about me vs you, it's us vs the problem'. 

"When people are stuck, often I find they don't know they have a choice about how they respond to their world. Life simply appears to happen to them without them having to take responsibility for their actions or inaction, and for the subsequent consequences. It is like they are stuck in the back seat of their life, unhappy that the driver isn't taking them to where they want to go. 

"Certain experiences can cause us to develop a victim mentality.... One of the indicators of victim-mode is giving a list of reasons why any solution offered to us will not work, so people who try to help us are left confused or frustrated. There are no advantages to being a victim, but there are to being stuck in victim-mode, such as not having to take responsibility for things that happen in our lives and blaming everything bad on other people's action"

Chapter 3 : How We Change is probably my favorite chapter. Mungkin di usia akhir 20-an ini, seringkali kita merasa stuck, baik dalam karir, pengembangan diri, hubungan, atau dalam aspek apapun itu. Namun jangan sampai membuat kita lupa, bahwa sebenarnya kita selalu memiliki pilihan untuk bergerak. Penggunaan kursi penumpang ini membuatnya lebih mudah untuk dimengerti. Kita bukanlah penumpang yang akan membiarkan hidup kita 'disetir' oleh orang lain, kita lah yang memiliki power untuk menyetirnya. Kita yang memiliki pilihan untuk belok ke kanan, atau ke kiri, mencoba rute lain yang mungkin belum pernah kita coba sebelumnya, atau bahkan kita memiliki pilihan untuk mengganti destinasinya. 

Jika merasa kurang mampu dalam menyetirnya, berlatih dan belajarlah terus. Jika merasa kebingungan, bertanyalah pada banyak orang yang ditemui di sepanjang jalan. Jika kita terbiasa untuk tidak 'menyetir' nya sendiri, kita akan merasa bahwa ketika kita terjebak macet, menemukan jalan yang berlubang, terlambat sampai ke tujuan, dan hal-hal buruk lainnya, adalah hal yang disebabkan karena kesalahan orang lain, atau karena takdir buruk yang menempatkan kita pada keadaan tersebut. Dan kita hanyalah korban dari orang lain dan takdir buruk tersebut. 

"We fear making the wrong choice. It feels like we might avoid mistakes if we don't make decisions. But not making decisions is still choice and it may, like other choices, be the wrong one. I believe it is impossible to really know whether a choice is the right one without hindsight -- and none of us has that. Mistakes and failure are necessary in order to grow. In psychotherapy we call them "another bloody fucking learning opportunity."

Ah, bagus banget! Kita harus sadar, bahwa ketika kita tidak mengambil keputusan untuk berubah, itu adalah sebuah pilihan yang kita ambil. Kita memilih untuk tidak mengambil keputusan untuk berubah. Jika ada risiko yang kita hadapi ketika kita mengambil keputusan untuk berubah, maka bersiaplah juga untuk risiko yang kita hadapi saat kita memilih untuk tidak mengambil keputusan untuk berubah. 

"The main thing to remember is that change takes practice. It might not feel right at the start because it won't feel familiar, and we mistake familiarity for truth. What is familiar and comfortable feels right, even if it harms us. "

Salah satu hal yang sering dibahas Perry dalam buku ini adalah tentang familiarity itu sendiri. Gue pernah mendengar salah satu insight menarik dalam podcast Raditya Dika dengan seorang psikolog, Nago Tejena , saat ada pertanyaan mengapa orang memilih untuk bertahan terus-menerus dalam sebuah toxic relationship, dan dijawab dengan jawaban yang menurut gue, makes sense but painful at the same time, yakni  karena orang cenderung memilih merasakan 'luka yang familiar' dibandingkan dengan berubah ke kondisi yang mungkin lebih baik, namun terasa tidak familiar. Mereka tidak memiliki bayangan akan seperti apa kondisi baru tersebut, role baru yang harus dijalani, atau label baru yang diberikan orang sekitar. Jika toxic relationship adalah kondisi yang terlalu berat, mungkin kita juga menerapkan ini dalam aspek karir yang sebenrnya kita merasa stuck dalam suatu pekerjaan, namun kita memilih untuk tidak mencari pekerjaan baru, karena sudah terlalu nyaman dengan familiarity yang kita miliki di tempat kerja tersebut. 

"If you feel stuck in the obsessional stage you can move beyond it by controlling where and when you let it out. You do this by setting a timetable for it. Weep, rage, and mourn at the same time every day for half an hour, In fact, you must mourn and grieve then, even if you don't feel like it. Reminisce about the way life used to be. You could make a shrine, light a candle, weep, write a love letter that you will never send -- anything -- but no more than half an hour a day and only at your allotted time. Be strict, set alarms. In this way while you are having your feelings and working through them you are also gaining control of them."

Pembahasan ini dalam konteks menghadapi perubahan yang terjadi karena berakhirnya sebuah hubungan. Walau tidak se-proper poin di atas dalam membuat 'jadwal' dalam meluapkan emosi, percayalah gue juga melakukan hal ini saat ada di fase life after break up beberapa tahun lalu. Gue memperbolehkan diri gue untuk meluapkan semua emosi yang ada, tapi gue memiliki kontrol penuh terhadap kapan, di mana, dan bagaimana semua emosi itu diluapkan. Pada akhirnya, kemampuan untuk mengontrol emosi itu menjadi sesuatu yang memberikan banyak manfaat untuk gue hingga sekarang. 

"There is the difference between saying 'I am scared' and 'I feel scared' . 'I am scared' is defining a whole person whereas with 'I feel scared', there is part of the person that is sitting back and observing, and therefor still available to make a decision. We can take our feelings into account, without being merely a reaction to those feelings.

So how can we develop our observer part? I recommend keeping a journal of moods, sensations, and observations. This is a part of you which simply observes the different emotions and sensations you have -- not part of your gratitude, or your anxiety, or your love, or your fear. Speak from this part. This means instead of saying 'I am anxious;, you'll say 'I notice I am feeling anxious'. Create a sense of distance between you and your negative feelings."

"The critical voice, on the other hand, makes criticisms that are blunt and general. It doesn't say useful stuff like 'you put too much copper oxide into that glaze so it came out black instead of green', it says instead 'you're useless, you'll never be any good at pottery'. That's how you know it's your inner circle talking, and that you need to distance yourself from it."

Ini ada kaitannya dengan buku Merawat Luka Batin bagian memisahkan antara diri kita dan pikiran kita. Pikiran kita bukanlah diri kita, melainkan hanya sebagian dari diri kita yang juga bisa keliru. Dengan memberikan jarak tersebut, kita membiasakan diri untuk me-review kembali pikiran kita, sebelum mempercayainya. Pemilihan kata yang digunakan dalam menggambarkan suatu perasaan juga sangat penting untuk memberikan 'takaran' seberapa dalam perasaan tersebut. Hindari kata-kata yang terlalu berat, tidak spesifik, dan menggenalisir seperti useless, bodoh, selalu gagal, dan lain-lain. 

"Most of us have a Willpower subpersonality and an Inner Rebel. Willpower has the words, but Inner Rebel as the action. ... We need to understand our Inner Rebel better as otherwise it will only come up with excuses to avoid what it doesn't want to do.

Our Inner Rebel probably wants a bit of fun, maybe some romantic intrigue, some leisure of some sort. Find out what it wants and strike a bargain with it. If we don't, our body will rebel. This probably means paying as much attention to scheduling fun as we do to scheduling our work. 

Dig into what the Willpower subpersonality part of you wants and why, and what that Inner Rebel part of you wants as well."

Kita selalu diajarkan belajar agar mendapat nilai bagus, bekerja untuk mencari uang, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Willpower subpersonality yang kita miliki. Hal itu bagus, namun jangan sampai lupa bahwan kita juga memiliki Inner Rebel yang juga harus diperhatikan. Salah satu hal yang gue cukup sering temui di usia akhir 20-an ini, disaat orang seringkali terlalu fokus bekerja adalah, mereka tidak tahu cara untuk bersenang-senang, bahkan merasa bersalah jika mengambil jeda dan mengeluarkan budget lebih untuk bersenang-senang. Padahal untuk membuat diri kita merasa content, kita perlu mengenal lebih dalam keduanya. 

Menurut gue, dibanding buku sebelumnya, buku ini lebih ringan dan lebih menyenangkan untuk dibaca, namun tidak sedikit juga yang menyentil. Sangat cocok untuk dibaca kalau kalian ingin memulai membaca buku dari seorang psikiater. Well, happy reading & let me know what you are thinking!

#TravelwithDis : A Day Trip To Tai O Village!

Hi, Experience Seekers!

Postingan ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya tentang Solo Traveling 101. Gue akan berbagi pengalaman saat solo traveling ke sisi lain dari Hongkong, yang cukup berbeda dari apa yang ada di sosial media. Sisi Hongkong yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Tai O Village, sebuah  kampung nelayan yang terletak di ujung Lantau Island. Sebenarnya, banyak opsi menuju Tai O dari Tsim Sha Tsui, bisa menggunakan bus, MTR, ataupun feri. Namun, karena ingin explore Ngong Ping Village terlebih dahulu, gue memilih untuk menggunakan MTR sampai ke Lantau Island Station, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta gantung menuju Ngong Ping Village, kemudian dilanjutkan dengan naik bus untuk sampai ke Tai O Village.

Suasana mulai terasa berbeda saat tiba di Lantau Island, benar-benar tidak terasa seperti Hongkong dengan segala pemandangan gedung tingginya. Sebelumnya, gue sudah memesan tiket di Klook untuk 1x perjalanan cable car dengan crystal cabin menuju Ngong Ping Village. Gue hanya membeli untuk 1x perjalanan karena berencana untuk kembali ke pusat kota dengan menggunakan bus. Karena datang di hari kerja, suasana tampak tidak terlalu ramai dan antrean di cable car juga bisa dibilang cukup sepi, sehingga gue bisa mendapatkan 1 cabin private untuk gue sendiri, tanpa ada penumpang lain. Wah, excited banget!

Ini bukan kali pertama gue mencoba naik cable car, sebelumnya gue sudah pernah mencobanya saat berkunjung ke Langkawi Sky Bridge. Gue juga tidak memiliki ketakutan dengan ketinggian, makanya  dengan percaya diri, gue memilih crystal cabin, agar bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada di bawah, tapi ternyata cukup deg-degan juga ya, jika dilakukan sendiri. Hahaha. Cable car sepanjang 5,7km ini akan membawa gue sampai ke Ngong Ping Village dengan durasi sekitar 30 menit perjalanan. Sepanjang jalan, gue disuguhkan dengan berbagai pemandangan indah yang cukup variatif dan tidak membosankan. Bagian kesukaan gue adalah saat pemandangan mulai penuh dengan hutan, dan terlihat kabut yang membuatnya semakin indah, sekaligus dramatis. Gue juga sesekali mengambil selfie dengan berlatarkan pemandangan sekitar. 





Setelah 30 menit perjalanan dengan cable car, gue pun tiba di Ngong Ping Village, sebuah desa wisata dengan paduan nuansa alam dan arsitektur Chinese yang kental. Banyak hal yang bisa dilakukan disini, seperti mengunjungi berbagai restuarant, berbelanja, berkunjung ke museum coklat, menikmati wisata alam sekitar, atau yang menjadi tujuan utama adalah melihat Tian Tan Budha, atau dikenal juga dengan Big Budha, sebuah patung perunggu besar dengan tinggi sekitar 34 meter. Untuk sampai ke puncak Big Budha, pengunjung harus menaiki lebih dari 250 anak tangga. Walau agak lelah, terbayarkan dengan pemandangan dari atas puncak Big Budha yang sangat indah. 





Setelah puas berkeliling Ngong ping Village, gue melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Tai O Village. Bus menuju Tai O memiliki jadwal keberangkatan, jadi pastikan kalian menunggu di halte untuk mengetahui jadwal keberangkatan. Perjalanan dari Ngong Ping menuju Tai O cukup dekat, hanya sekitar 10-15 menit perjalanan. Sesampainya di Tai O, jangan lupa untuk perhatikan jam keberangkatan bus dari Tai O kembali ke kota. Salah satu hal yang harus dilakukan saat solo traveling adalah memfoto peta tempat wisata, jadwal keberangkatan transportasi umum, dan tempat naik/turun transportasi umum tersebut. Hal itu akan memudahkan dalam mengatur waktu selama bekeliling di tempat wisata tersebut.





Dan sesamapinya di Tai O, gue benar-benar merasa ini berbeda dengan Hongkong yang gue tinggali beberapa hari terakhir. Perpaduan antara nuansa alam dan kehidupan masyarakat yang masing sangat tradisional sangat terasa sepanjang gue berkeliling disini. Kalau kalian suka wisata kuliner, kalian bisa explore pasar yang menjual beraneka seafood & chinese food disini. Tai O Village terasa cukup ramai jika kalian hanya berkeliling di sekitaran pasar tradisional. Tapi semakin dalam berjalan, seperti menyusuri pantai dan melihat perumahan warga, kalian akan lebih banyak bertemu dengan warga lokal setempat dibandingkan dengan turis yang sedang berwisata. Hal lain yang bisa dilakukan di Tai O adalah befoto di mural, jalan-jalan di pinggir pantai, ataupun menikmati pemandangan sambil ditemani secangkir kopi. Gue datang ke salah satu coffee shop yang cukup banyak direkomendaisikan di Instagram, yakni Solo Balcony. Wah, ambience nya enak banget, menikmati pemandangan kampung nelayan yang masih sangat asri.






Setelah puas menghabiskan beberapa jam di Tai O, gue pun kembali ke tempat pemberhentian bus dan menunggu keberangkatan bus selanjutnya. Sebenarnya, sunset di Tai O juga terkenal indah, tapi rasanya terlalu malam kalau gue kembali ke kota setelah sunset. Inilah salah satu hal yang gue pelajari juga dari solo traveling, self control -- menekan ego sendiri demi keselamatan diri sendiri.

Overall, pengalaman gue ke Tai O ini cukup berkesan. Destinasi yang sangat unik, sebuah kampung nelayan tradisional, sisi lain dari metroplitannya Hongkong. Kalau kalian ada pengalaman berwisata ke destinasi unik seperti ini, boleh cerita di kolom komentar yaa! :D

Tuesday

#ReadbyDis : What Type of Reader Are You?

 Hi, Insight Seekers!

Gimana ya tips nya agar bisa betah dan fokus membaca buku? 

Gimana ya tips untuk memilih buku yang bagus dan gak membosankan? 

Apa  rekomendasi buku yang cocok dibaca untuk orang yang baru mulai baca buku?

Pertanyaan di atas adalah beberapa pertanyaan yang pernah gue terima seputar membaca buku. Sebenarnya jujur, gue sendiri merasa masih newbie banget ya untuk memberikan jawaban atau tips seputar membaca, tapi kalau ada satu tips yang boleh gue berikan adalah ; Mulailah dari apa yang kalian ingin ketahui dan pelajari lebih dalam. Atau lebih mudahnya, mulailah dari topik atau cerita apa yang kalian sukai. Sama seperti memilih tontonan di Netflix, gak semua film/series yang menurut orang lain bagus, akan kalian tonton, kan? Gue pribadi dalah tipe penonton yang hampir gak pernah nonton film superhero, walau banyak orang yang merekomendasikannya. Gue cenderung memilih tontonan yang sesuai dengan genre yang biasa gue tonton, walaupun gak ada teman sekitar gue yang menonton film tersebut. Pun sama dengan mencari konten di youtube, gue akan mencari topik apapun yang gue ingin ketahui --- kadang dengan sedaging-dagingnya, sesedih-sedihnya, sekocak-kocaknya atau seringkali sebodoh-bodohnya keywords yang gue gunakan. 

Berlaku juga untuk memilih buku yang ingin gue baca, gue memilih sesuai dengan topik apa yang ingin gue ketahui saat itu. Gue gak malu untuk membeli buku tentang cinta-cintaan,  yang mungkin terlihat terlalu cringe atau kurang "daging" dibanding buku-buku dengan topik keuangan atau komunikasi. But, who cares? Mungkin memang saat itu, gue sedang butuh belajar lebih tentang cinta. Atau saat gue pernah ada di fase sangat tertarik dengan minimalism & stoicism, buku-buku yang gue baca pun akan seputar topik tersebut. Atau kalau kalian lebih suka dengan dengan cerita fiksi, mulailah dengan memilih cerita seperti apa yang biasa kalian sukai. Slice of life atau yang penuh dengan fantasi? Tidak ada yang menilai mana yang lebih keren antara pecinta novel fantasi, ilmiah, ataupun biografis.  

Suatu hari ada sahabat gue yang juga hobi membaca, mengirim KUIS, ini, yang membagi bookworm ke dalam 6 kelompok, sesuai dengan  buku yang mereka sukai. Di dalam kuis ini, kita akan diberikan 24 sinopsis buku, kemudian kita menjawab sesuai seberapa tertarik dan seberapa besar kemungkinan kita akan membaca 24 buku tersebut. Coba deh, gak sampai  10 menit! Dan ternyata, hasilnya cukup valid, sesuai dengan apa yang ada di rak buku ataupun di wishlist gue! :D








Kalau kalian sudah baca semua review buku gue di blog ini, sesuai banget ya sama top 3 gue yakni The Practical Sage, The Introspective Oracale, & The Emotional Catalyst. Sama seperti gue suka belajar sebuah podcast, gue suka belajar sesuatu yang practical dari sebuah buku, yang bisa langsung gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gue juga suka mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan inner peace, yang membantu gue untuk berintrospeksi dan lebih terkoneksi dengan diri sendiri. Walau lebih sering membaca buku non fiksi, gue juga membaca beberapa buku fiksi, namun lebih spesifik ke cerita yang tidak terlalu jauh dari kehidupan sehar-hari. Gue kurang suka dengan cerita yang terlalu imajinatif dan memiliki latar lokasi atau waktu yang jauh dari kehidupan saat ini. Gak heran ya, The Curious Explorer & The Adventure Seeker ada di 2 nomor terbawah, dengan persentase <= 10%. Hehehe. Again, sesuai dengan yang gue sampaikan di awal kalau tidak ada genre yang lebih keren, dibanding yang lain. Di akhir kuis ini, juga akan diberikan beberapa rekomendasi buku yang sesuai dengan tipe kalian. 

Gimana? Tertarik kah untuk coba kuis ini? If you have tried, please tell me what type of reader you are! :D

Sunday

#TravelwthDis : Open Trip 101!

 Hi, Experience Seekers!

Dibanding dengan pergi tanpa travel, ataupun private trip degan travel – sepertinya open trip masih menjadi salah satu cara traveling yang seringkali gue pilih. Selain karena semua sudah diatur & disediakan oleh travel agent, harga yang relatif lebih murah juga menjadi alasan kenapa gue memilih open trip. Gue sudah lebih dari 5x mengikuti open trip, dari destinasi yang dekat seperti Pulau Seribu, destinasi open trip yang paling diminati seperti Banyuwangi & Labuan Bajo, hingga destinasi yang jarang didatangi wisatawan domestik yaitu Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dalam postingan ini gue akan berbagi seputar open trip, seperti alasan gue memilih ikut open trip, pertimbangan dalam memilih trip operator, serta tips-tips agar memiliki pengalaman open trip yang menyenangkan!

Kenapa Memilih Open Trip?

Well, sebelum lebih jauh membahas open trip, gue akan jelaskan dulu sedikit tentang open trip. Open trip sendiri adalah wisata yang diikuti oleh sekelompok orang yang memiliki destinasi yang sama di waktu yang sama, dengan rangkaian agenda dan detail perjalanan yang telah disiapkan oleh trip operator, yang dapat berupa perorangan ataupun perusahaan travel. Yang bisa digaris bawahi dalam definisi tadi, yang sekaligus menjadi pembeda dengan private trip, adalah kata Sekelompok Orang dan Destinasi & Waktu yang Sama. Kalau pada open trip, sekelompok orang yang berasal dari berbagai grup ini mengikuti tanggal yang disediakan oleh trip operator. Dengan adanya penggabungan ini, maka ada pembagian biaya dalam biaya guide, penginapan transportasi, dll sehingga harga yang ditawarkan bisa lebih murah dibandingkan private trip. Sementara kalau private trip, peserta bisa lebih fleksibel menentukan waktu trip, tanpa harus digabungkan dengan orang lain.

Salah satu alasan gue memilih open trip tentunya adalah harga yang ditawarkan. Contoh jika pergi ke Belitung 3D2N dengan trip operator yang sama untuk 3 orang – jika private trip sekitar Rp 1,250,000 per orang nya , sementara jika ikut open trip hanya Rp 900,000 per orang nya . Total gue bisa hemat hampir Rp 1,000,000 , yang bisa digunakan untuk pengalaman lain seperti extend untuk staycation. Selain harga, tentunya ada alasan lain seperti mencari teman agar trip terasa lebih aman & menyenangkan. Gue ke Belitung bersama orang tua dan sepertinya akan lebih ramai, jika bergabung bersama orang lain. Atau saat gue menghabiskan 3 hari 2 malam di Hutan Kalimantan di Tanjung Puting, gue merasa lebih aman kalau menghabiskannya bersama lebih banyak orang.

Pertimbangan Dalam Memilih Trip Operator

Untuk trip operator sendiri, sebenarnya sudah banyak sekali pilihan trip operator yang sudah cukup besar, baik yang berfokus pada satu destinasi, ataupun yang menyediakan pilihan ke berbagai destinasi. Bahkan ada juga marketplace yang bergerak pada bidang penyediaan open trip, seperti Tripacker & ExploreidPenilaian pertama gue dalam memilih trip operator tentunya dari sosial medianya. Secara harga & itinerary, sebenarnya biasanya tidak terlalu berbeda antar operator untuk satu destinasi yang sama. Salah satu hal yang paling gue lihat adalah testimoni dari peserta sebelumnya baik di kolom komentar, highlight IG Story dan juga tagged photos nya. Gue melihat pengalaman dari peserta trip yang sebelumnya sudah memakai jasa dari trip operator tersebut. Biasanya gue akan memilih beberapa kandidat dan gue hubungi via whatsapp untuk meminta info yang lebih detail. Penilaian berikutnya adalah bagaimana jawaban & informasi dari masing-masing operator, dalam merespon pertanyaan. Sebagai calon klien, sangat boleh untuk kritis & bertanya sedetail mungkin terkait itinerary ataupun fasilitas yang diberikan. Tapi harus tetap dengan sopan, ya! Dalam interaksi itulah, trust akhirnya terbentuk dan gue dapat memutuskan trip operator mana yang akan gue pilih. Beberapa trip yang pernah gue pakai adalah Yuk Banyuwangi , Belitung Lestari Tour , Indie Travel , & Tanjung Puting Tourism . Overall gue cukup puas dengan semua trip operator tersebut.

Penting juga untuk tahu keinginan kalian ya. Kalau kalian tipe yang suka difoto, ataupun membuat  konten untuk sosial media, mungkin bisa menilai juga dari bagaimana hasil foto dari trip operator tersebut. Ada beberapa trip operator yang memberikan jasa tambahan seperti foto dengan menggunakan drone, atau bisa dibuatkan video untuk konten sosial media, dan lain-lain. Atau kalau kalian tipe traveler yang suka dengan konsep sustainability, saat ini juga sudah banyak trip operator yang mulai berfokus ke hal ini. Atau kalau kalian berpergian dengan foreigners, dan membutuhkan guide yang bisa berbahasa asing, ini juga bisa dikomunikasikan ke trip operator nya ya!

Tips!

Well gue bisa bilang kalau gak semua orang akan cocok dengan open trip. Menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama orang asing, terlebih jika harus berbagi fasilitas, tentunya tidak semua hal menyenangkan dan banyak yang harus dikompromikan. Beberapa tips yang gue berikan agar bisa menikmati pengalaman open trip kalian

Set Your Expectation

Ini hal pertama yang harus dilakukan, manage your expectation. Sebenarnya ini berlaku tidak hanya saat open trip, basically dalam semua interaksi kita bersama orang lain. Oke, gue akan ikut open trip. Naik mobil berjam-jam bersama orang lain. Makan di meja makan bersama 10 orang yang baru gue temui. Kamar gue tidak ada kamar mandi dalam sehingga harus berbagi kamar mandi dengan orang lain. Hal-hal ini harus kita sadari dulu di awal sehingga kita akan sadar bahwa akan ada proses komunikasi dan kompromi yang terjadi dengan peserta trip lainnya.

Ingat juga, kalau lo ga sendiri di trip ini. Jadi pastikan untuk mengikuti itinerary yang telah disiapkan. Jangan sampai jadi peserta yang datang terlambat, atau tidak berkumpul kembali di meeting point karena keasyikan explore sendiri. Dan pastikan juga untuk tidak membawa barang terlalu banyak sehingga tidak memenuhi mobil atau kamar yang digunakan bersama.

Be Humble

Gak perlu harus jadi talkative, extrovert maksimal, atau jadi orang yang lucu banget kok untuk ikut open trip. Just be humble. Selama open trip, kalian akan berinteraksi dengan orang yang sama selama beberapa hari, kebayang dong pasti akan ada moment krik-krik nya. Kalian bisa menciptakan obrolan ringan sambil menunggu makanan datang, menawarkan snack yang kalian punya saat menghabiskan waktu, ataupun membantu mengambil foto jika ada yang perlu bantuan. Open trip, terutama ke alam, secara otomatis menurut gue mengeluarkan sisi humble gue sih. Kayak pasti ada saling bahu membahu saat trekking di trek yang gak mudah, atau tertawa bersama karena geli dan panik saat ada peserta mabok laut karena ombak atau angin laut. Ada juga moment yang membuat hati hangat kaya saling melayani – saling membagikan piring, menuangkan nasi dan lauk pauk saat makan bersama, kemudian membereskannya kembali bersama-sama. Atau moment  seru lainnya seperti live music & dangdutan dengan warga lokal di Belitung atau karoke dan menari lagu Maumere di phinisi saat gue ke Labuan Bajo.

Have Fun but Set Boundaries

Dari beberapa pengalaman open trip gue – sama sekali tidak ada keharusan untuk melanjutkan interaksi dengan peserta trip lainnya. Ada peserta trip yang gue masih saling follow sosial media dan beberapa kali berkomunikasi. Tetapi ada juga yang sempat bertukar akun instagram, namun gue tidak merasa nyaman setelahnya dan gue unfollow. Ada juga yang gue memilih untuk tidak bertukar akun instagram sejak awal.

Dalam interaksi selama open trip juga tentunya ada saling tanya jawab, berfoto bersama, membuat konten sosial media, dll. Kalian boleh banget ya kalau membuat batasan, jika dirasa itu adalah interaksi yang tidak diperlukan atau tidak membuat kalian nyaman. Jika ada saatnya kalian ingin istirahat ataupun ingin menikmati waktu sendiri juga gak apa, coba untuk mengkomunikasikannya dengan tetap sopan, ya.

Jujur buat gue pribadi, open trip yang gue ikuti hampir selalu menyenangkan. Sebenarnya banyak foto kebersamaan dengan peserta lain, tapi gak akan gue upload karena alasan privacy. Jadi semoga kalian bisa membayangkannya lewat kata-kata yang gue tuliskan di postingan ini. Kalau kalian ada pertanyaan lain seputar open trip, atau ingin berbagi pengalaman seru selama ikut open trip, boleh berbagi di kolom komentar ya!

Wednesday

#TravelwithDis : Jatuh Cinta di Labuan Bajo!

Hi, Experience Seekers!

Setelah sebelumnya membahas tentang Sailing Trip di Labuan Bajo, postingan kali ini akan membahas aktivitas apa saja yang gue lakukan selama di Labuan Bajo selain Sailing Trip. Di akhir, gue juga akan membagikan juga total budget yang gue habiskan selama hampir 1 minggu di Labuan Bajo! 

Staycation!

Meski belum sebanyak Bali atau Lombok, menurut gue pilihan akomodasi di Labuan Bajo sudah cukup variatif, dari yang on budget hingga bisa jutaan per malam nya. Dari banyaknya pilihan tersebut, gue ingin mencari akomodasi yang memberikan pengalaman yang unik dan berbeda, hingga pilihan gue akhirnya jatuh pada Waecicu Eden Beach. Setelah melihat dari sosial media & traveloka nya, gue langusng merasa resort ini tipe Adis banget, sih? Dengan harga yang masih reasonable, akhirnya gue memilih untuk menginap di hotel ini di hari pertama gue tiba di Labuan Bajo, sebelum berangkat sailing trip.

Setelah sampai di Bandara Internasional Komodo, gue mencari ojek untuk menuju Waecicu Eden Beach. Menurut arahan dari pihak resort, ada 2 cara untuk bisa sampai di resort ini, yakni menaiki speedboat dari Pantai Waecicu, atau berjalan kaki menuruni tebing. Karena merasa sepertinya tidak terlalu jauh, kami pun memilih untuk menuruni tebing. Setelah tiba di titik yang diberikan oleh pihak hotel -- awalnya gue agak ragu, karena hanya ada tanda di pinggir jalan, yang menunjukan bahwa inilah titik menuju Waecicu Eden Beach. Ojek gue sampai berkali-kali menanyakan apakah ini benar sudah tiba di tempat tujuan. Gue pun mulai menuruni jalan dan mengikuti petunjuk arah yang diberikan. Sebenarnya, perjalanan tidak jauh dan sudah menggunakan tangga, namun ternyata cukup lelah juga karena saat itu jam menunjukan pukul jam 12 siang, ditambah rasa lapar dan backpack yang gue bawa cukup berat. Hahaha. Namun, pemandangan di sekitar jalan membuat gue tetap bersemangat dan gak sabar untuk tiba di resepsionis. Wah, setelah sampai di resepsionis, gue sangat impressed dengan perpaduan pemandangan pantai dan interior ala rustic mediterranean benar-benar memanjakan mata setelah cukup lelah berjalan. 






Untuk kamar nya sendiri, menurut gue ini unik banget! Kamar gue seperti berada di atas tebing dengan pemandangan langsung ke Pantai Waecicu. Bahkan pantai pun tetap terlihat dari dalam jendela kamar. Jarak antar kamar juga tidak terlalu dekat sehingga menambah kesan 'terisolasi' dari resort ini. Tapi ada hal yang cukup bikin gue agak kaget, yakni ternyata tidak ada pintu pada kamar mandi nya? Hahaha.






Banyak hal yang bisa kalian lakukan disini seperti snorkeling, kayaking, atau sekedar bermalas-malasan di sunbed dan hammock yang disediakan di pantai pribadi resort ini. Wah, 2 hari 1 malam disini benar-benar gue habiskan untuk mencoba semuanya. Saat itu adalah kali pertama gue mencoba kayaking, dan surprisingly, ternyata tidak butuh banyak waktu untuk gue bisa menikmatinya. Dari atas kayak, gue pun bisa melihat kamar gue yang ternyata, benar-benar di atas tebing! Jangan lupa juga untuk menikmati sunset dengan bersantai di pinggir pantai. Warna langit jingga keunguan mewarnai malam pertama gue di Labuan Bajo. 






Lokasi Waecicu Eden Beach ini cukup jauh dari pusta kota, sehingga agak suit untuk mencari makanan di luar resort ini. Gue pun makan malam dan kopi disini, dengan harganya yang masih reasonable dan rasa yang cukup memuaskan. Biaya per malam disini sekitar 1,000,000 dan sudah termasuk breakfast ala carte untuk 2 orang. Suasana saat breakfast sangat menenangkan, karena banyak tamu yang menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan, atau sambil membaca buku. Hampir semua tamu yang gue lihat saat itu adalah foreigners. Memang, resort ini bukanlah tipe resort yang hype di sosial media. Resort ini juga menyediakan day trip jika kalian ingin island hopping ke Pulau Padar, Pulau Komodo, dll, namun gue tidak menyakan lebih lanjut untuk detailnya, karena sudah memesan open trip. Di perjalanan pulang, kami memilih menggunakan speeboat menuju Pantai Waecicu dengan biaya tambahan. Pemandangan sepanjang perjalnan sangat indah, gue juga melewati pantai pribadi yang dimiliki oleh beberapa luxury resort di Labuan Bajo. 




Explore Like Locals! 

Destinasi yang gue rekomendasikan adalah Pantai Pede dan  Bukit Sylvia, yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Pantai Pede terletak hanya sekitar 500m dari Pelabuhan Labuan Bajo. Saat gue berkunjung ke sini, kebetulan sedang ada event sehingga kondisi pantai cukup ramai dengan penduduk setempat.  Gue hanya membawa kain pantai, kopi,dan snack, menghabiskan waktu cukup lama disana untuk menikmati matahari terbenam yang begitu sempurna. 




Sementara Bukit Sylvia, membutuhkan waktu sekitar 15 menit mengendarai motor dari pusat kota. Untuk mencapai puncak bukit, gue harus trekking singkat sekitar 15 menit. Gue sampai cukup awal, sekitar setengah 5 sore, sehingga situasi di Bukit Sylvia masih cukup sepi. Gue pun menghabiskan waktu dengan piknik santai dan berfoto-foto. Pengunjung mulai ramai berdatangan sekitar setengah 6 menuju sunset, karena pemandangan sunset yang indah dari atas bukit. Hari itu adalah malam terakhir gue di Labuan Bajo, sambil memandangi sunset yang indah, ada rasa haru karena trip ini berjalan dengan begitu mengesankan. 



Enjoy the Slow Living!

Kalau agenda di atas butuh rencana dan jadwal khusus, agenda ini gue tidak ada jadwal khusus. Hanya jalan pagi menikmati jalanan Bajo yang ternyata sudah mulai gue hafal, membeli kopi di Carpenter Cafe, salah satu coffee shop terkenal di Bajo, makan juga se-random makan mie ayam atau nasi uduk di dekat hotel, dan mengunjungi tempat oleh-oleh di Exotic Bajo dan Kado Bajo. Untuk penginapan selain Waecicu Eden Beach, gue memilih  El Ora Hotel & Eatery, hotel yang harganya cukup terjangkau dan letaknya sangat strategis. Kalian juga harus coba makan siang Sei Sapi di sini, enak banget! Mereka juga memiliki sewa motor dan laundry, sehingga sangat memudahkan gue saat di Bajo kemarin. Di malam terakhir, sebelum flight pagi keesokan harinya, gue menginap di salah satu hotel on budget yang lokasinya sangat dekat dengan bandara. 




Untuk makan malam sendiri, gue cukup ada beberapa rekomendasi -- kalau kalian cari seafood dengan tempat yang cukup nyaman, tersedia banyak restaurant di sekitar Pantai Pede. Saat itu gue datang ke Santeria Seafood , namun sayang restaurant tersebut ternyata sudah lama tutup. Kalau kalian cari seafood dengan lengkap dan harga yang masih bisa ditawar, cobalah untung datang ke Kampung Ujung. Kalaupun kalian sudah makan malam di tempat lain, gue tetap merekomendasikan untuk 'nongkrong' sambil makan kerang saus padang atau jus buah di Kampung Ujung, seperti yang gue lakukan. Kalau kalian cari kehidupan malam yang ramai sambil menikmati live music, kalian bisa datang ke cafe kekinian seperti Seaesta. Tidak seperti di Bali, suasana malam yang ramai disini tidak berlangsung sampai larut. 





Sisanya, kalian bisa menghabiskan waktu dengan berkeliling Bajo dengan menggunakan motor. Pemandangan sepanjang jalan benar-benar seindah itu. Bahkan, gue ada pengalaman nyasar, namun malah menikmati 'kenyasaran' itu karena pemandangan indah yang ditawarkan. Itulah rekomendasi aktivitas di Labuan Bajo yang bisa kalian lakukan selain sailing trip! 

Berikut budget secara umum yang gue keluarkan di Labuan Bajo untuk 2 orang, gue buat sedetail mungkin sampai ke pengeluaran untuk makan dan kebutuhan lain selama disana :


Overall dengan budget tersebut gue sangat puas dengan pengalaman yang gue dapatkan di Labuan Bajo, salah satu core memory yang akan gue kenang selalu! Thank you Bajo, I'd come back for Waerebo (hopefully) !

#ReadbyDis : The Book You Want Everyone You Love To Read (2023)

  Hi, Insight Seekers! Ulasan buku kali ini datang Philippa Perry , seorang psikiater dan juga penulis dari salah satu buku favorite gue,  T...