Saturday

#TravelwithDis : A Day Trip To Tai O Village!

Hi, Experience Seekers!

Postingan ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya tentang Solo Traveling 101. Gue akan berbagi pengalaman saat solo traveling ke sisi lain dari Hongkong, yang cukup berbeda dari apa yang ada di sosial media. Sisi Hongkong yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Tai O Village, sebuah  kampung nelayan yang terletak di ujung Lantau Island. Sebenarnya, banyak opsi menuju Tai O dari Tsim Sha Tsui, bisa menggunakan bus, MTR, ataupun feri. Namun, karena ingin explore Ngong Ping Village terlebih dahulu, gue memilih untuk menggunakan MTR sampai ke Lantau Island Station, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta gantung menuju Ngong Ping Village, kemudian dilanjutkan dengan naik bus untuk sampai ke Tai O Village.

Suasana mulai terasa berbeda saat tiba di Lantau Island, benar-benar tidak terasa seperti Hongkong dengan segala pemandangan gedung tingginya. Sebelumnya, gue sudah memesan tiket di Klook untuk 1x perjalanan cable car dengan crystal cabin menuju Ngong Ping Village. Gue hanya membeli untuk 1x perjalanan karena berencana untuk kembali ke pusat kota dengan menggunakan bus. Karena datang di hari kerja, suasana tampak tidak terlalu ramai dan antrean di cable car juga bisa dibilang cukup sepi, sehingga gue bisa mendapatkan 1 cabin private untuk gue sendiri, tanpa ada penumpang lain. Wah, excited banget!

Ini bukan kali pertama gue mencoba naik cable car, sebelumnya gue sudah pernah mencobanya saat berkunjung ke Langkawi Sky Bridge. Gue juga tidak memiliki ketakutan dengan ketinggian, makanya  dengan percaya diri, gue memilih crystal cabin, agar bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada di bawah, tapi ternyata cukup deg-degan juga ya, jika dilakukan sendiri. Hahaha. Cable car sepanjang 5,7km ini akan membawa gue sampai ke Ngong Ping Village dengan durasi sekitar 30 menit perjalanan. Sepanjang jalan, gue disuguhkan dengan berbagai pemandangan indah yang cukup variatif dan tidak membosankan. Bagian kesukaan gue adalah saat pemandangan mulai penuh dengan hutan, dan terlihat kabut yang membuatnya semakin indah, sekaligus dramatis. Gue juga sesekali mengambil selfie dengan berlatarkan pemandangan sekitar. 





Setelah 30 menit perjalanan dengan cable car, gue pun tiba di Ngong Ping Village, sebuah desa wisata dengan paduan nuansa alam dan arsitektur Chinese yang kental. Banyak hal yang bisa dilakukan disini, seperti mengunjungi berbagai restuarant, berbelanja, berkunjung ke museum coklat, menikmati wisata alam sekitar, atau yang menjadi tujuan utama adalah melihat Tian Tan Budha, atau dikenal juga dengan Big Budha, sebuah patung perunggu besar dengan tinggi sekitar 34 meter. Untuk sampai ke puncak Big Budha, pengunjung harus menaiki lebih dari 250 anak tangga. Walau agak lelah, terbayarkan dengan pemandangan dari atas puncak Big Budha yang sangat indah. 





Setelah puas berkeliling Ngong ping Village, gue melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Tai O Village. Bus menuju Tai O memiliki jadwal keberangkatan, jadi pastikan kalian menunggu di halte untuk mengetahui jadwal keberangkatan. Perjalanan dari Ngong Ping menuju Tai O cukup dekat, hanya sekitar 10-15 menit perjalanan. Sesampainya di Tai O, jangan lupa untuk perhatikan jam keberangkatan bus dari Tai O kembali ke kota. Salah satu hal yang harus dilakukan saat solo traveling adalah memfoto peta tempat wisata, jadwal keberangkatan transportasi umum, dan tempat naik/turun transportasi umum tersebut. Hal itu akan memudahkan dalam mengatur waktu selama bekeliling di tempat wisata tersebut.





Dan sesamapinya di Tai O, gue benar-benar merasa ini berbeda dengan Hongkong yang gue tinggali beberapa hari terakhir. Perpaduan antara nuansa alam dan kehidupan masyarakat yang masing sangat tradisional sangat terasa sepanjang gue berkeliling disini. Kalau kalian suka wisata kuliner, kalian bisa explore pasar yang menjual beraneka seafood & chinese food disini. Tai O Village terasa cukup ramai jika kalian hanya berkeliling di sekitaran pasar tradisional. Tapi semakin dalam berjalan, seperti menyusuri pantai dan melihat perumahan warga, kalian akan lebih banyak bertemu dengan warga lokal setempat dibandingkan dengan turis yang sedang berwisata. Hal lain yang bisa dilakukan di Tai O adalah befoto di mural, jalan-jalan di pinggir pantai, ataupun menikmati pemandangan sambil ditemani secangkir kopi. Gue datang ke salah satu coffee shop yang cukup banyak direkomendaisikan di Instagram, yakni Solo Balcony. Wah, ambience nya enak banget, menikmati pemandangan kampung nelayan yang masih sangat asri.






Setelah puas menghabiskan beberapa jam di Tai O, gue pun kembali ke tempat pemberhentian bus dan menunggu keberangkatan bus selanjutnya. Sebenarnya, sunset di Tai O juga terkenal indah, tapi rasanya terlalu malam kalau gue kembali ke kota setelah sunset. Inilah salah satu hal yang gue pelajari juga dari solo traveling, self control -- menekan ego sendiri demi keselamatan diri sendiri.

Overall, pengalaman gue ke Tai O ini cukup berkesan. Destinasi yang sangat unik, sebuah kampung nelayan tradisional, sisi lain dari metroplitannya Hongkong. Kalau kalian ada pengalaman berwisata ke destinasi unik seperti ini, boleh cerita di kolom komentar yaa! :D

Sunday

#TravelwthDis : Open Trip 101!

 Hi, Experience Seekers!

Dibanding dengan pergi tanpa travel, ataupun private trip degan travel – sepertinya open trip masih menjadi salah satu cara traveling yang seringkali gue pilih. Selain karena semua sudah diatur & disediakan oleh travel agent, harga yang relatif lebih murah juga menjadi alasan kenapa gue memilih open trip. Gue sudah lebih dari 5x mengikuti open trip, dari destinasi yang dekat seperti Pulau Seribu, destinasi open trip yang paling diminati seperti Banyuwangi & Labuan Bajo, hingga destinasi yang jarang didatangi wisatawan domestik yaitu Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dalam postingan ini gue akan berbagi seputar open trip, seperti alasan gue memilih ikut open trip, pertimbangan dalam memilih trip operator, serta tips-tips agar memiliki pengalaman open trip yang menyenangkan!

Kenapa Memilih Open Trip?

Well, sebelum lebih jauh membahas open trip, gue akan jelaskan dulu sedikit tentang open trip. Open trip sendiri adalah wisata yang diikuti oleh sekelompok orang yang memiliki destinasi yang sama di waktu yang sama, dengan rangkaian agenda dan detail perjalanan yang telah disiapkan oleh trip operator, yang dapat berupa perorangan ataupun perusahaan travel. Yang bisa digaris bawahi dalam definisi tadi, yang sekaligus menjadi pembeda dengan private trip, adalah kata Sekelompok Orang dan Destinasi & Waktu yang Sama. Kalau pada open trip, sekelompok orang yang berasal dari berbagai grup ini mengikuti tanggal yang disediakan oleh trip operator. Dengan adanya penggabungan ini, maka ada pembagian biaya dalam biaya guide, penginapan transportasi, dll sehingga harga yang ditawarkan bisa lebih murah dibandingkan private trip. Sementara kalau private trip, peserta bisa lebih fleksibel menentukan waktu trip, tanpa harus digabungkan dengan orang lain.

Salah satu alasan gue memilih open trip tentunya adalah harga yang ditawarkan. Contoh jika pergi ke Belitung 3D2N dengan trip operator yang sama untuk 3 orang – jika private trip sekitar Rp 1,250,000 per orang nya , sementara jika ikut open trip hanya Rp 900,000 per orang nya . Total gue bisa hemat hampir Rp 1,000,000 , yang bisa digunakan untuk pengalaman lain seperti extend untuk staycation. Selain harga, tentunya ada alasan lain seperti mencari teman agar trip terasa lebih aman & menyenangkan. Gue ke Belitung bersama orang tua dan sepertinya akan lebih ramai, jika bergabung bersama orang lain. Atau saat gue menghabiskan 3 hari 2 malam di Hutan Kalimantan di Tanjung Puting, gue merasa lebih aman kalau menghabiskannya bersama lebih banyak orang.

Pertimbangan Dalam Memilih Trip Operator

Untuk trip operator sendiri, sebenarnya sudah banyak sekali pilihan trip operator yang sudah cukup besar, baik yang berfokus pada satu destinasi, ataupun yang menyediakan pilihan ke berbagai destinasi. Bahkan ada juga marketplace yang bergerak pada bidang penyediaan open trip, seperti Tripacker & ExploreidPenilaian pertama gue dalam memilih trip operator tentunya dari sosial medianya. Secara harga & itinerary, sebenarnya biasanya tidak terlalu berbeda antar operator untuk satu destinasi yang sama. Salah satu hal yang paling gue lihat adalah testimoni dari peserta sebelumnya baik di kolom komentar, highlight IG Story dan juga tagged photos nya. Gue melihat pengalaman dari peserta trip yang sebelumnya sudah memakai jasa dari trip operator tersebut. Biasanya gue akan memilih beberapa kandidat dan gue hubungi via whatsapp untuk meminta info yang lebih detail. Penilaian berikutnya adalah bagaimana jawaban & informasi dari masing-masing operator, dalam merespon pertanyaan. Sebagai calon klien, sangat boleh untuk kritis & bertanya sedetail mungkin terkait itinerary ataupun fasilitas yang diberikan. Tapi harus tetap dengan sopan, ya! Dalam interaksi itulah, trust akhirnya terbentuk dan gue dapat memutuskan trip operator mana yang akan gue pilih. Beberapa trip yang pernah gue pakai adalah Yuk Banyuwangi , Belitung Lestari Tour , Indie Travel , & Tanjung Puting Tourism . Overall gue cukup puas dengan semua trip operator tersebut.

Penting juga untuk tahu keinginan kalian ya. Kalau kalian tipe yang suka difoto, ataupun membuat  konten untuk sosial media, mungkin bisa menilai juga dari bagaimana hasil foto dari trip operator tersebut. Ada beberapa trip operator yang memberikan jasa tambahan seperti foto dengan menggunakan drone, atau bisa dibuatkan video untuk konten sosial media, dan lain-lain. Atau kalau kalian tipe traveler yang suka dengan konsep sustainability, saat ini juga sudah banyak trip operator yang mulai berfokus ke hal ini. Atau kalau kalian berpergian dengan foreigners, dan membutuhkan guide yang bisa berbahasa asing, ini juga bisa dikomunikasikan ke trip operator nya ya!

Tips!

Well gue bisa bilang kalau gak semua orang akan cocok dengan open trip. Menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama orang asing, terlebih jika harus berbagi fasilitas, tentunya tidak semua hal menyenangkan dan banyak yang harus dikompromikan. Beberapa tips yang gue berikan agar bisa menikmati pengalaman open trip kalian

Set Your Expectation

Ini hal pertama yang harus dilakukan, manage your expectation. Sebenarnya ini berlaku tidak hanya saat open trip, basically dalam semua interaksi kita bersama orang lain. Oke, gue akan ikut open trip. Naik mobil berjam-jam bersama orang lain. Makan di meja makan bersama 10 orang yang baru gue temui. Kamar gue tidak ada kamar mandi dalam sehingga harus berbagi kamar mandi dengan orang lain. Hal-hal ini harus kita sadari dulu di awal sehingga kita akan sadar bahwa akan ada proses komunikasi dan kompromi yang terjadi dengan peserta trip lainnya.

Ingat juga, kalau lo ga sendiri di trip ini. Jadi pastikan untuk mengikuti itinerary yang telah disiapkan. Jangan sampai jadi peserta yang datang terlambat, atau tidak berkumpul kembali di meeting point karena keasyikan explore sendiri. Dan pastikan juga untuk tidak membawa barang terlalu banyak sehingga tidak memenuhi mobil atau kamar yang digunakan bersama.

Be Humble

Gak perlu harus jadi talkative, extrovert maksimal, atau jadi orang yang lucu banget kok untuk ikut open trip. Just be humble. Selama open trip, kalian akan berinteraksi dengan orang yang sama selama beberapa hari, kebayang dong pasti akan ada moment krik-krik nya. Kalian bisa menciptakan obrolan ringan sambil menunggu makanan datang, menawarkan snack yang kalian punya saat menghabiskan waktu, ataupun membantu mengambil foto jika ada yang perlu bantuan. Open trip, terutama ke alam, secara otomatis menurut gue mengeluarkan sisi humble gue sih. Kayak pasti ada saling bahu membahu saat trekking di trek yang gak mudah, atau tertawa bersama karena geli dan panik saat ada peserta mabok laut karena ombak atau angin laut. Ada juga moment yang membuat hati hangat kaya saling melayani – saling membagikan piring, menuangkan nasi dan lauk pauk saat makan bersama, kemudian membereskannya kembali bersama-sama. Atau moment  seru lainnya seperti live music & dangdutan dengan warga lokal di Belitung atau karoke dan menari lagu Maumere di phinisi saat gue ke Labuan Bajo.

Have Fun but Set Boundaries

Dari beberapa pengalaman open trip gue – sama sekali tidak ada keharusan untuk melanjutkan interaksi dengan peserta trip lainnya. Ada peserta trip yang gue masih saling follow sosial media dan beberapa kali berkomunikasi. Tetapi ada juga yang sempat bertukar akun instagram, namun gue tidak merasa nyaman setelahnya dan gue unfollow. Ada juga yang gue memilih untuk tidak bertukar akun instagram sejak awal.

Dalam interaksi selama open trip juga tentunya ada saling tanya jawab, berfoto bersama, membuat konten sosial media, dll. Kalian boleh banget ya kalau membuat batasan, jika dirasa itu adalah interaksi yang tidak diperlukan atau tidak membuat kalian nyaman. Jika ada saatnya kalian ingin istirahat ataupun ingin menikmati waktu sendiri juga gak apa, coba untuk mengkomunikasikannya dengan tetap sopan, ya.

Jujur buat gue pribadi, open trip yang gue ikuti hampir selalu menyenangkan. Sebenarnya banyak foto kebersamaan dengan peserta lain, tapi gak akan gue upload karena alasan privacy. Jadi semoga kalian bisa membayangkannya lewat kata-kata yang gue tuliskan di postingan ini. Kalau kalian ada pertanyaan lain seputar open trip, atau ingin berbagi pengalaman seru selama ikut open trip, boleh berbagi di kolom komentar ya!

Wednesday

#TravelwithDis : Jatuh Cinta di Labuan Bajo!

Hi, Experience Seekers!

Setelah sebelumnya membahas tentang Sailing Trip di Labuan Bajo, postingan kali ini akan membahas aktivitas apa saja yang gue lakukan selama di Labuan Bajo selain Sailing Trip. Di akhir, gue juga akan membagikan juga total budget yang gue habiskan selama hampir 1 minggu di Labuan Bajo! 

Staycation!

Meski belum sebanyak Bali atau Lombok, menurut gue pilihan akomodasi di Labuan Bajo sudah cukup variatif, dari yang on budget hingga bisa jutaan per malam nya. Dari banyaknya pilihan tersebut, gue ingin mencari akomodasi yang memberikan pengalaman yang unik dan berbeda, hingga pilihan gue akhirnya jatuh pada Waecicu Eden Beach. Setelah melihat dari sosial media & traveloka nya, gue langusng merasa resort ini tipe Adis banget, sih? Dengan harga yang masih reasonable, akhirnya gue memilih untuk menginap di hotel ini di hari pertama gue tiba di Labuan Bajo, sebelum berangkat sailing trip.

Setelah sampai di Bandara Internasional Komodo, gue mencari ojek untuk menuju Waecicu Eden Beach. Menurut arahan dari pihak resort, ada 2 cara untuk bisa sampai di resort ini, yakni menaiki speedboat dari Pantai Waecicu, atau berjalan kaki menuruni tebing. Karena merasa sepertinya tidak terlalu jauh, kami pun memilih untuk menuruni tebing. Setelah tiba di titik yang diberikan oleh pihak hotel -- awalnya gue agak ragu, karena hanya ada tanda di pinggir jalan, yang menunjukan bahwa inilah titik menuju Waecicu Eden Beach. Ojek gue sampai berkali-kali menanyakan apakah ini benar sudah tiba di tempat tujuan. Gue pun mulai menuruni jalan dan mengikuti petunjuk arah yang diberikan. Sebenarnya, perjalanan tidak jauh dan sudah menggunakan tangga, namun ternyata cukup lelah juga karena saat itu jam menunjukan pukul jam 12 siang, ditambah rasa lapar dan backpack yang gue bawa cukup berat. Hahaha. Namun, pemandangan di sekitar jalan membuat gue tetap bersemangat dan gak sabar untuk tiba di resepsionis. Wah, setelah sampai di resepsionis, gue sangat impressed dengan perpaduan pemandangan pantai dan interior ala rustic mediterranean benar-benar memanjakan mata setelah cukup lelah berjalan. 






Untuk kamar nya sendiri, menurut gue ini unik banget! Kamar gue seperti berada di atas tebing dengan pemandangan langsung ke Pantai Waecicu. Bahkan pantai pun tetap terlihat dari dalam jendela kamar. Jarak antar kamar juga tidak terlalu dekat sehingga menambah kesan 'terisolasi' dari resort ini. Tapi ada hal yang cukup bikin gue agak kaget, yakni ternyata tidak ada pintu pada kamar mandi nya? Hahaha.






Banyak hal yang bisa kalian lakukan disini seperti snorkeling, kayaking, atau sekedar bermalas-malasan di sunbed dan hammock yang disediakan di pantai pribadi resort ini. Wah, 2 hari 1 malam disini benar-benar gue habiskan untuk mencoba semuanya. Saat itu adalah kali pertama gue mencoba kayaking, dan surprisingly, ternyata tidak butuh banyak waktu untuk gue bisa menikmatinya. Dari atas kayak, gue pun bisa melihat kamar gue yang ternyata, benar-benar di atas tebing! Jangan lupa juga untuk menikmati sunset dengan bersantai di pinggir pantai. Warna langit jingga keunguan mewarnai malam pertama gue di Labuan Bajo. 






Lokasi Waecicu Eden Beach ini cukup jauh dari pusta kota, sehingga agak suit untuk mencari makanan di luar resort ini. Gue pun makan malam dan kopi disini, dengan harganya yang masih reasonable dan rasa yang cukup memuaskan. Biaya per malam disini sekitar 1,000,000 dan sudah termasuk breakfast ala carte untuk 2 orang. Suasana saat breakfast sangat menenangkan, karena banyak tamu yang menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan, atau sambil membaca buku. Hampir semua tamu yang gue lihat saat itu adalah foreigners. Memang, resort ini bukanlah tipe resort yang hype di sosial media. Resort ini juga menyediakan day trip jika kalian ingin island hopping ke Pulau Padar, Pulau Komodo, dll, namun gue tidak menyakan lebih lanjut untuk detailnya, karena sudah memesan open trip. Di perjalanan pulang, kami memilih menggunakan speeboat menuju Pantai Waecicu dengan biaya tambahan. Pemandangan sepanjang perjalnan sangat indah, gue juga melewati pantai pribadi yang dimiliki oleh beberapa luxury resort di Labuan Bajo. 




Explore Like Locals! 

Destinasi yang gue rekomendasikan adalah Pantai Pede dan  Bukit Sylvia, yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Pantai Pede terletak hanya sekitar 500m dari Pelabuhan Labuan Bajo. Saat gue berkunjung ke sini, kebetulan sedang ada event sehingga kondisi pantai cukup ramai dengan penduduk setempat.  Gue hanya membawa kain pantai, kopi,dan snack, menghabiskan waktu cukup lama disana untuk menikmati matahari terbenam yang begitu sempurna. 




Sementara Bukit Sylvia, membutuhkan waktu sekitar 15 menit mengendarai motor dari pusat kota. Untuk mencapai puncak bukit, gue harus trekking singkat sekitar 15 menit. Gue sampai cukup awal, sekitar setengah 5 sore, sehingga situasi di Bukit Sylvia masih cukup sepi. Gue pun menghabiskan waktu dengan piknik santai dan berfoto-foto. Pengunjung mulai ramai berdatangan sekitar setengah 6 menuju sunset, karena pemandangan sunset yang indah dari atas bukit. Hari itu adalah malam terakhir gue di Labuan Bajo, sambil memandangi sunset yang indah, ada rasa haru karena trip ini berjalan dengan begitu mengesankan. 



Enjoy the Slow Living!

Kalau agenda di atas butuh rencana dan jadwal khusus, agenda ini gue tidak ada jadwal khusus. Hanya jalan pagi menikmati jalanan Bajo yang ternyata sudah mulai gue hafal, membeli kopi di Carpenter Cafe, salah satu coffee shop terkenal di Bajo, makan juga se-random makan mie ayam atau nasi uduk di dekat hotel, dan mengunjungi tempat oleh-oleh di Exotic Bajo dan Kado Bajo. Untuk penginapan selain Waecicu Eden Beach, gue memilih  El Ora Hotel & Eatery, hotel yang harganya cukup terjangkau dan letaknya sangat strategis. Kalian juga harus coba makan siang Sei Sapi di sini, enak banget! Mereka juga memiliki sewa motor dan laundry, sehingga sangat memudahkan gue saat di Bajo kemarin. Di malam terakhir, sebelum flight pagi keesokan harinya, gue menginap di salah satu hotel on budget yang lokasinya sangat dekat dengan bandara. 




Untuk makan malam sendiri, gue cukup ada beberapa rekomendasi -- kalau kalian cari seafood dengan tempat yang cukup nyaman, tersedia banyak restaurant di sekitar Pantai Pede. Saat itu gue datang ke Santeria Seafood , namun sayang restaurant tersebut ternyata sudah lama tutup. Kalau kalian cari seafood dengan lengkap dan harga yang masih bisa ditawar, cobalah untung datang ke Kampung Ujung. Kalaupun kalian sudah makan malam di tempat lain, gue tetap merekomendasikan untuk 'nongkrong' sambil makan kerang saus padang atau jus buah di Kampung Ujung, seperti yang gue lakukan. Kalau kalian cari kehidupan malam yang ramai sambil menikmati live music, kalian bisa datang ke cafe kekinian seperti Seaesta. Tidak seperti di Bali, suasana malam yang ramai disini tidak berlangsung sampai larut. 





Sisanya, kalian bisa menghabiskan waktu dengan berkeliling Bajo dengan menggunakan motor. Pemandangan sepanjang jalan benar-benar seindah itu. Bahkan, gue ada pengalaman nyasar, namun malah menikmati 'kenyasaran' itu karena pemandangan indah yang ditawarkan. Itulah rekomendasi aktivitas di Labuan Bajo yang bisa kalian lakukan selain sailing trip! 

Berikut budget secara umum yang gue keluarkan di Labuan Bajo untuk 2 orang, gue buat sedetail mungkin sampai ke pengeluaran untuk makan dan kebutuhan lain selama disana :


Overall dengan budget tersebut gue sangat puas dengan pengalaman yang gue dapatkan di Labuan Bajo, salah satu core memory yang akan gue kenang selalu! Thank you Bajo, I'd come back for Waerebo (hopefully) !

#TravelwithDis : Open Trip edisi Labuan Bajo!

Hi, Experience Seekers!

Di postingan kali ini gue akan share tentang destinasi yang begitu special, sebuah wishlist yang sudah ada sejak lama dan sampai saat ini menjadi destinasi yang selalu gue rekomendasikan. Singkat cerita, gue ingat di awal masa kuliah gue, jauh sebelum gue suka traveling, gue sangat ingin berkunjung ke Pulau Komodo. Lalu di tahun 2016, gue mengikuti kegiatan volunteer dan gue memiliki adik angkat yang berasal dari Kabupaten Manggarai, yang merupakan tempat dimana Pulau Komodo berada. Setelah itu gue mulai mengulik lebih banyak informasi dan menjadikan Labuan Bajo, yang merupakan pintu awal untuk menuju Taman Nasional Komodo, menjadi destinasi yang harus gue datangi. Pada Desember 2019, gue dan sahabat gue, Ayu, sempat membeli paket trip ke Labuan Bajo, dengan harga promo yang cukup murah dan dapat gue gunakan sepanjang 2020 -- sayangnya, covid melanda dan paket yang sebenarnya bisa diperpanjang sepanjang 2021 itu harus kami relakan. 

Waktu berlalu sampai kami harus menunggu 4 tahun kemudian, dimana akhirnya kami mendapat waktu yang begitu sempurna untuk pergi kesana. Saat kami bisa cuti hampir 1 minggu bersamaan, di hari ulang tahun gue ke 27 :) Dibanding dengan 4 tahun lalu, pastinya saat ini kami lebih bisa fleksibel dalam mengatur waktu dan budget untuk merencanakan trip yang  jauh lebih nyaman. Trip ke Labuan Bajo ini berdurasi 6 hari dimana 3 hari 2 malam gue ikut open trip dari Indietravel , dan sisanya dihabiskan dengan staycation dan berkelilig sekitar Labuan Bajo. Di postingan kali ini, gue akan bahas seputar open trip nya dulu, ya! Staycation dan topik lainnya akan gue bahas di postingan selanjutnya! 

Selama 3 hari 2 malam open trip di Bajo, gue tinggal di phinisi bersama sekitar 15 orang anggota trip dan awak kapal. Salah satu hal yang harus segera dibook ketika kalian ingin open trip ke Labuan Bajo adalah tipe phinisi yang kalian inginkan. Jika sudah memilih phinisi, kalian juga akan memilih tipe kamar baik private ataupun digabung dengan peserta lain, dengan kamar mandi private atau sharing, dan lain-lain. Setelah membandingkan cukup banyak phinisi dan mempertimbangkan dengan budget yang gue miliki, gue memilih IndieTravel Std VI Master Cabin dengan harga Rp 3.375.000 / pax, untuk master bedroom dengan private balcony, namun kamar mandi di luar berbagi dengan peserta yang lain.



Di hari pertama, masing-masing peserta trip dijemput di Bandara Internasional Komodo, atau hotel di sekitar pelabuhan, dan menuju ke phinisi. Setelah briefing dari kru trip dan perkenalan singkat semua peserta trip, phinisi pun berjalan ke berbagai destinasi seperti Taka Makassar, Kelor Island, Pink Beach, dan lainnya. Sebenarnya sudah ada itinerary setiap hari nya, namun terkadang karena faktor cuaca, ataupun kondisi keramaian di masing-masing destinasi, itinerary tersebut bisa berubah. Trip gue memilih untuk tidak ke Kelor terlebih dahulu seperti yang sebelumnya ada itinerary, karena kondisi disana sangat ramai. Jujur, awalnya terasa gak biasa ya tinggal di atas phinisi. Cukup terasa terombang-ambingnya, ditambah ketika sedang makan, atau sedang berada di kamar mandi. Hari pertama gue mengalami sedikit mabok laut dan memilih cukup banyak istirahat di kamar. Perjalanan memakan waktu beberapa jam sampai akhirnya tiba di Taka Makassar.  Wah, indah banget? Gradasi warna yang sempurna, ditambah pemandangan bawah laut yang dinikmati saat snorkeling disana. Kami juga sempat melihat penyu, dan beberapa peserta trip mencoba untuk berenang bersama penyu. Kami menghabiskan waktu di phinisi dengan saling mengobrol, karoke, makan bersama dan berbagai aktivitas lainnya. Sepanjang perjalanan di phinisi, kami benar-benar disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah.



Hari pertama berakhir dengan briefing singkat, karena hari kedua akan dimulai dini hari dimana kita akan menuju Pulau Padar, yang menjadi salah satu icon dari Labuan Bajo. Setelah sampai di Pulau Padar sekitar jam setengah 4 pagi, peserta akan trekking singkat sekitar 30-45 menit menuju ke puncak Pulau Padar dan menununggu matahari terbit disana. Untuk trek nya sendiri cukup mudah kalau kalian sudah terbiasa trekking, namun harus berhati-hati karena kondisi jalanan cukup gelap. Kondisi di Pulau Padar cukup ramai, dan trip gue standby di salah satu spot yang indah pemandangan sunrise nya. Matahari perlahan mulai terbit, dan wah, ini moment pertama gue menitikan air mata di trip ini :") Hahaha jujur banget, cukup banyak moment gue menitikan air mata selama di Bajo. Peserta trip diberikan waktu untuk menikmati sunrise, lalu berfoto bergantian berlatarkan pemandangan khas Pulau Padar. Setelah menghabiskan waktu di spot tersebut, peserta kembali ke Phinisi untuk menikmati sarapan sebelum menuju destinasi selanjutnya. Pemandangan sepanjang perjalanan kembali ke phinisi benar-benar memanjakan mata. 






Destinasi selanjutnya adalah Pantai Pink, yang terkenal dengan pasirnya yang berwarna pink, dihasilkan dari pecahan terumbu karang yang bercampur dengan pasir putih. Kalau kalian suka foto-foto, Pantai Pink ini bagus banget sih? Disini trip kami menggunakan drone dan para peserta bergantian berfoto di pasir pink yang sangat unik ini. Perjalanan dilanjutkan ke salah satu destinasi yang menjadi highlight, yaitu Taman Nasional Komodo. Dari Pantai Pink yang cantik, suasana berubah menjadi ala-ala Jurassic World. Jika berkunjung ke Taman Nasional Komodo, peserta akan dipandu oleh  seorang ranger, atau pemandu wisata yang akan menemani, sekaligus menjelaskan segala hal tentang hewan yang sangat special ini. Musim kawin komodo jatuh pada Bulan Juni - Bulan Agustus, dimana pada masa ini, akan sulit untuk menemukan komodo. Untungnya, hari itu kami dapat melihat 1 komodo yang sangat besar, walau gue kurang nyaman saat para tamu satu per satu bergantian berfoto dengan komodo tersebut. Selain 1 komodo besar, kami juga melihat beberapa anak komodo. Di Taman Nasional Komodo ini cukup dipadati dengan penjual oleh-oleh seperti pakaian, aksesoris seperti gelang & kalung, gantungan kunci, serta berbagai pernak pernik lainnya. 






Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke salah satu pantai untuk menikmati pemandangan sore, sambil menunggu waktu sunset di Kalong Island, yang merupakan pulau kecil tak berpenghuni, yang menjadi habitat jutaan kelelewar / kalong. Saat sunset, ribuan kelelawar beterbangan untuk mencari makan, seperti buah-buahan dan nektar bunga. Kalau gue harus memilih salah satu magical moment dari trip Bajo ini, gue akan menjawab sunset di Kalong Island ini, yang membuat gue menitikan air mata saking indahnya. Apa yang ada di foto yang ditangkap dengan kamera sebagus apapun, masih sangat jauh dari pemandangan asli yang ditangkap oleh mata secara langsung. Gue sempat ngobrol juga dengan guide trip gue, kalau cukup banyak phinisi yang sayangnya, harus melewatkan moment ini karena phinisi terlambat sampai ke Kalong Island.  

Kami menghabiskan cukup banyak waktu di Kalong Island sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Di malam terakhir ini, ikatan di antara peserta trip semakin terjalin. Kami menghabiskan waktu untuk makan malam bersama, diiringi oleh kru kapal yang bernyanyi bersama. Tiba-tiba tanpa gue sadari terdengar lagu yang sudah sangat familiar, Jamrud - Selamat Ulang Tahun. Kaget banget tiba-tiba kru kapal membawa kue untuk gue, dan salah satu peserta lain yang ternyata berulang tahun juga tanggal 30 Juli. Kami pun tiup lilin, bernyanyi, lalu berfoto bersama. Setelah semua makanan dibereskan, kami menutup malam terakhir dengan menarikan tarian Maumere, yang pasti kalian sudah familiar. Putar ke kiri e, Nona manis putarlah ke kiri, Ke kiri ke kiri ke kiri dan ke kiri ke kiri ke kiri ke kiri manis e. Ah, kami menari di atas phinisi sambil dikelilingi pemandangan laut di malam hari. Gue tidak bisa memasukan foto-foto kebersamaan kami, tapi gue harap gue cukup baik dalam mendeskripsikan kehangatan yang kami rasakan di malam tersebut. 

Hari ketiga perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kalor, yang seharusnya menjadi destinasi di hari pertama. Disini juga kami harus trekking singkat, lebih singkat dan lebih mudah dibanding dengan Pulau Padar, tentunya. Pemandangan laut dari atas memang selalu mengesankan. Destinasi terakhir kami adalah menikmati keindahan bawah laut di Pulau Manjarite. Kami bersantai di pinggir pantai sambil menikmati pemandangan sebelum trip ini segera berakhir. Dari semua keindahan yang kami dapatkan, sayang sekali kami tidak bisa berkunjung ke Pulau Kanawa, yang padahal gue tau itu indah sekali. Tapi, namanya juga traveling ke alam, banyak hal yang tentunya tidak bisa kita kontrol. Trip pun selesai dan kami ke pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. 





Overall, gue sangat sangat sangat merekomendasikan sailing trip di Labuan Bajo ini. The trip you have to try at least once in your life, you'll thank me later. Untuk detail budgeting dan agenda lainnya di Bajo, akan gue share di postingan selanjutnya ya! 

#TravelwithDis : A Day Trip To Tai O Village!

Hi, Experience Seekers! Postingan ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya tentang Solo Traveling 101 . Gue akan berbagi pengalaman saat...