Wednesday

#ReadbyDis : The Book You Wish Your Parents Had Read (2019)


Hi Insight Seekers! 

Hampir semua buku self-help yang ada di #ReadbyDis pasti sedikit banyak ada menyinggung tentang pola asuh orang tua di masa kecil. Dan buku yang akan gue bahas kali ini akan membahas secara detail bagaimana pengaruh pola asuh tersebut terhadap kehidupan seseorang. 

"I opened my mouth and my mother's words came out."

Satu kalimat di awal buku ini yang sangat powerful dalam menggambarkan seberapa berperannya masa kecil seseorang terhadap tumbuh kembang seseorang hingga dewasa. Buku ini dibawali dengan bagaimana orang tua bisa mewariskan banyak hal, termasuk parenting style mereka -- yang tentunya berdampak pada parenting style seseorang terhadap generasi selanjutnya nanti. Menariknya, parenting style ini tidak hanya mempengaruhi kita dalam memperlakukan anak kita nanti, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan 'anak' yang ada di dalam diri kita. 'Anak' ini adalah kita, di usia sebelumnya yang terus ada di dalam diri kita. Di buku ini dijelaskan kalau terkadang, banyak perasaan yang muncul karena perilaku anak kita itu men-trigger perasaan yang muncul pada diri kita di saat kita seusia anak kita tersebut. 

Setelah 3 bab awal yang lebih fokus membahas repair and rupture, bab-bab selanjutnya buku ini akan mulai lebih fokus pada proses menjadi orang tua. Dari mulai proses kehamilan -- bagaimana bonding antara calon ibu dengan bayi yang dikandungnya, bagaimana merencanakan proses melahirkan dan proses melahirkan itu sendiri, support system dari lingkungan sekitar, tentang perubahan hormon yang mempengaruhi perasaan seorang ibu baru, dari kesepian hingga post natal depression. Selanjutnya pembahasan akan berlanjut ke bagaimana cara amenghadapi seorang anak yang mulai tumbuh -- tentang membangun ikatan, tentang cara berkomunikasi, tentang mood anak yang bisa tantrum ataupun menjadi clingy, tentang hal-hal yang lebih practical seperti sleep nudging dan bermain bersama anak.

Bab selanjutnya adalah fase yang menarik, saat anak semakin bisa bertumbuh dan mulai bisa membantah, hingga mulai di fase bisa berbohong. Pada fase ini, orang tua akan menghadapi tantangan baru -- Apakah harus menjadi orang tua yang strict? Batasan seperti apa yang harus diberlakukan, agar anak yang mulai tumbuh remaja, dapat tetap nyaman untuk berbagi pada orang tua nya? Bagaimana sikap orang tua dalam merespon hal-hal yang dilakukan anak yang berlawanan dengan apa yang sebelumnya mereka ajarkan? Wah, fase ini membawa gue teringat pada masa remaja gue, yang pastinya tidak mudah juga orang tua gue menghadapi gue di saat itu. Fase terakhir dalam buku ini membahas tentang hubungan orang tua - anak ketika anak sudah menjadi orang dewasa. Ya, seseorang walau sudah usia dewasa, bahkan ketika sudah menikah dan memiliki anak, tetaplah akan menjadi anak bagi orang tuanya. Dalam buku ini gue belajar kalau menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup, karena proses pembelajaran itu tidak berhenti, bahkan sampai si anak sudah dewasa.

Insight!

"In response to something your child has done or requested, it's  a good idea to think of it as a warning. Not a warning that your child or children are necessarily doing anything wrong but that your own buttons are being pressed. Often the pattern works like this: When you react with anger or another overly charged emotion around your child it is because it's a way you have learned to defend yourself from feeling what you felt at their age. Outside of your awareness, their behavior is threatening to trigger your own past feelings of despair, of longing, of loneliness, jealousy, or neediness. And so you unknowingly take the easier option: rather than empathizing with what your child is feeling, you short-circuit to being angry or frustrated or panicked."
 
"If you feel yourself wanting a break from your children every hour of every day, what you probably need is a break from the feelings they trigger in you. To avoid being controlled by those triggers, look back at yourself as a baby or as a child with compassion. Once you've been able to do that, you will be able to identify with the need and longing your children have for you."

Bab awal buku ini akan membahas tentang seseorang yang akan menjadi role model utama seorang anak, yaitu, kita, orang tua (atau calon orang tua) nya. Maka untuk memiliki hubungan yang baik dengan anak, milikilah hubungan yang baik terlebih dulu dengan diri sendiri. Kita saat ini, adalah hasil dari berbagai kejadian yang terjadi sejak kecil hingga dewasa. Kita, adalah hasil dari berbagai interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Salah satu yang terbesar adalah interaksi dengan orang tua. Maka dalam chapter ini, kita akan diajak untuk mengenal istilah repair and rupture, yakni mengenal dampak dari interaksi tersebut, memperbaiki apa yang ingin kita perbaiki dari interaksi tersebut, sebelum akhirnya kita wariskan ke generasi selanjutnya nanti.

Salah satu efek yang kita rasakan adalah adanya berbagai emosi yang muncul, dan kita bawa hingga saat ini, dari berbagai peristiwa dan interaksi tersebut. Kita mungkin masih membawa rasa kecewa, rasa sepi, rasa cemburu, atau berbagai emosi lain yang kita rasakan semasa kecil, dan dapat muncul kembali jika ada peristiwa atau kejadian yang muncul di masa sekarang. Ini juga yang sering disebut dengan inner child. Salah satu yang menjadi pemicu adalah apa yang dilakukan oleh seorang anak. Seringkali tanpa disadari, orang tua merasa marah atau merasa takut karena apa yang dilakukan anaknya, karena itulah yang mereka rasakan dulu semasa kecil jika menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi anaknya. Apa yang mereka lakukan bukanlah karena apa yang dilakukan anak tersebut, melainkan karena apa yang dilakukan anak tersebut memicu atau membangkitkan emosi-emosi yang mereka rasakan saat di usia anak tersebut. 

"You and whoever you live with is your children's environment. A large part of how your children go on to feel about themselves and how they interact with others will form in relationship to you and the small circle around you. That's your co-parent, if you have one, siblings, grandparents, paid  help and close friends. It is important to have awareness about how we behave in these relationship. For example, do we bring our appreciation to the people close to us or do we dump our anger on to them? These familiar relationships are influential in determining how a child's personality and mental health develop. Children are individuals, but they are part of a whole system too."

Ini pelajaran parenting yang menurut gue, penting banget. Salah satu contoh adalah ada  orang tua yang sangat menyayangi anaknya dan memperlakukan anaknya dengan sangat baik, namun tidak memperlakukan orang-orang di sekitar si anak dengan baik, misalnya sering membentak-bentak asisten rumah tangga atau menyuruh dengan nada yang tidak sopan. Atau jika tinggal bersama kakek/nenek, terkadang juga ada perdebatan antara si orang tua dengan kakek/nenek nya yang  dilihat oleh si anak. Dalam bab ini juga dibahas tentang hubungan orang tua yang bercerai, bagaimana co-parenting ini tetap bisa dilakukan walau tidak lagi bersama. Sebagai satu unit co-parent, penting juga untuk orang tua memberi tahukan pada orang-orang yang tinggal di sekitar si anak, value apa saja yang ingin mereka ajarkan ke anaknya, karena anak tidak hanya melihat interasksi orang tua dan anaknya saja, tapi juga interaksi-interaksi lain di sekitarnya. 

"Start with how the issue make you feel, not with an attack or by blaming. A good rule of thumb when arguing is to do it with "I-statements', not 'you-statements', for example 'I feel hurt when you don't answer me when you're on the phone', not 'You're always ignoring me when you're on your phone'. If you instead describe how what you hear or see makes you feel, then you are talking about yourself, which is far easier for the other person to hear."

Dalam hubungan orang tua - anak, konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan memang tidak perlu dihindari. Salah satu cara untuk menghadapi konflik adalah dengan berdiskusi secara sehat. Ini tidak hanya berlaku untuk hubungan antar orang tua dan anak, tapi juga bisa digunakan dengan pasangan. Dalam memberikan argumen, mulai lah dengan apa yang kita rasakan yang diakibatkan dari hal yang dilakukan oleh orang lain, bukan dengan langsung menyalahkan apa yang orang lain lakukan. Fokus pada menyerang seseorang dan menyalahkan orang lain hanya akan membuat orang tersebut membela diri. Sementara, dengan menggunakan I-statement, bisa membuat pasangan / anak kita lebih mudah mengerti dampak dari apa yang mereka lakukan. 

"This is what a child needs: for a parent to be a container fir their emotions. This means you are alongside them and know and accept what they feel but you are not being overwhelmed by their feelings. Being able to be a container means witnessing anger in a child, understanding what they are angry and perhaps putting that into words for them, finding acceptable ways for them to express their anger and not being punitive or overwhelmed by the anger. The same is true for other emotions too."

"Denying unhappiness doesn't make it go away, it just digs it in a deeper layer."

"As you comfort them, they learn how to cope with their feelings. If you ignore the cries, they will learn not yo to share about their feelings with you -- which will help them cope with them. Having feelings accepted and soothed is the foundation for good mental health."

"How putting feelings into words can really shit them along. This is true for adults, too. It can feel hard, as a parent, to acknowledge your child's feeling beneath tears and screams because you don't want to think that your child is suffering. To name the suffering feels like it will make it worse, but it doesn't, it usually makes it better. It takes time to put things into words but when a child is upset they'll find it even harder to find the words, so it is up you."

Topik tentang feelings cukup sering dibahas di dalam buku ini, bahkan ada 1 bab khusus yang membahas tentang feelings. Salah satu tugas pertama orang tua yang beperan penting dalam pertumbuhan mental seorang anak adalah bagaimana orang tua dapat menjadi wadah bagi seorang anak untuk mencurahkan emosinya. Jika seorang anak telah terbiasa diterima dan ditenangkan perasaan nya, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang bisa menerima dan menenangkan perasaan nya sendiri. Sebaliknya, jika ia terbiasa diabaikan, maka ia akan tumbuh dengan mengabaikan perasaan nya sendiri,

Salah satu tantangan bagi orang tua adalah terkadang seorang anak tidak bisa dengan jelas menceritakan emosinya, dan mecurahkannya lewat menangis, marah, hingga tantrum. Di sinilah peran orang tua dalam menjadi wadah tersebut -- membantu anak untuk bisa mengartikan emosinya, mencurahkan apa yang dirasakan melalui kata-kata dan mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang lebih baik. Tantangan lainnya adalah bagaimana orang tua tidak merasa overwhelmed dengan berbagai emosi yang dirasakan oleh si anak. 

"Remember: we all have these rooms as well as the public face of parenting when other people can see us with our children. And we all have how we feel about ourselves as parents, things we feel great about and things we feel less than great about. What is so important is not to compare our own private room of difficult feelings to other people's public face of parenting."

Hal ini berkaitan dengan kondisi mental seorang ibu yang membandingkan hubungannya dengan si anak terhadap hubungan ibu - anak lain yang ada di sekitarnya. Si ibu seringkali merasa lelah, ataupun tidak selalu memberikan yang terbaik pada si anak, sementara ibu-ibu lainnya selalu terlihat sempurna. Di poin ini, buku ini memberikan perumpamaan bahwa setiap orang memiliki 'ruang pribadi' dan ''ruang publik' nya masing-masing, dimana orang lain hanya melihat apa yang terjadi di 'ruang publik' nya saja, sementara hanya kita sendiri yang dapat melihat 'ruang pribadi' kita, tempat segala rasa insecurities itu berada. Karena kita tidak bisa melihat 'ruang pribadi' orang lain, maka kurangilah untuk membandingkan apa yang kita lihat dari 'ruang publik' orang lain dengan apa yang kita lihat pada 'ruang pribadi' kita sendiri.  

"You need to contain a child's feelings and not overreact to what they show or tell you by not being judgemental and by getting them to brainstorm possible solutions to problems rather than immediately telling them what they should be doing. We have been around longer than them, and sometimes when they tell us something it is tempting to tell them what they should do, but, if possible, hold back, so that you instil confidence in your child rather than always an oracle, your child is more likely to keep telling you the truth. If a child lies -- or engages in any other behavior you'd rather change -- instead of reacting, look to the reasons and feelings behind the lie or the behavior. If you understand and validate those feelings, you give them a chance to find more acceptable ways of expressing themselves and their needs."

"When the lines of communication are open, the more complicated, nuanced conversations you need to have about sex, drugs, bullying, friendships, pornography, and the online world are easier to have. You can learn how these things are seen by your child and the younger generation and you can each share your feelings and knowledges about them and each change in the process. If you are not willing at all to be impacted upon by the opinions and feelings of your child, they will be less likely to allow your influence and your wise counsel."

Pada fase ini anak sudah mengalami usia remaja dan dewasa, dimana mereka sudah mulai bisa berbohong, sudah bisa bergaul dan memiliki banyak interaksi di luar bersama keluarga. Tantangan orang tua pada fase ini adalah bagaimana orang tua tetap bisa menjadi wadah bagi anak dalam berbagi cerita, maupun berbagi emosi. Namun, kadang mungkin ada hal yang dilakukan si anak yang tidak sesuai dengan kemauan orang tua, yang bisa menyebabkan orang tua merespon dengan berlebihan, tanpa memvalidasi apa yang anak tersebut rasakan. Hal ini akhirnya akan berdampak pada anak yang memberi jarak dan menjadi lebih tertutup -- merasa takut atau tidak perlu bercerita kepada orang tua karena takut dengan responnya. Padahal, di usia tersebut, banyak hal yang sebaiknya bisa didiskusikan untuk menjaga pergaulan dan lingkungan si anak. Dalam fase ini, orang tua harus bisa menjadi pendengar yang baik, dan memahami situasi yang dihadapi anaknya sebelum pelan-pelan mulai memberikan arahan atas apa yang sebaiknya di lakukan. 

"Further down the line, if we are lucky enough to live long, we may have to let our children make decisions for us in the final stages of this lifelong relationship. If we have learned to trust them, this will be easier on us, and on them. Having a child means that you will have to be the parent when they are a child, then you will be adults together and, finally, you may become the child to their adult. If we can be flexible and fluid about these roles, it can make it easier on everyone."

Nah, ini fase yang mungkin banyak dari kita yang sedang mengalaminya. Fase dimana anak sudah dewasa, dan akhirnya ada pada fase dimana anak yang 're-parent' orang tua nya. Sebuah proses belajar untuk memiliki hubungan yang saling menghargai sebagai sesama orang dewasa, sekaligus hubungan yang saling mencintai sebagai orang tua dan anaknya.  Jika sebelumnya hubungan yang dibangun lebih banyak dikontrol oleh orang tua, pada fase ini, anak lah yang mungkin lebih berperan dalam mengontrol hubungan ini.

Overall menurut gue buku ini sangat recommended, tidak hanya untuk yang sudah menjadi orang tua, tetapi juga untuk yang ingin ataupun bahkan yang tidak ingin menjadi orang tua. Gue juga merekomendasikan buku ini untuk pria, karena belajar untuk menjadi orang tua bukanlah hanya untuk wanita. Dalam persiapan dan pembelajaran menjadi orang tua, menurut gue, calon ayah juga harus memiliki persiapan yang sama besar dengan calon ibu. Gue senang bisa berkesempatan membaca buku ini di fase gue belum memiliki anak, dan gue harap, seperti yang ada dalam judul buku ini The Book You Wish Your Parens Had Read (and Your Children Will Be Glad That You Did), anak gue nanti akan bersyukur dan bisa merasakan dampak positif dari ibunya yang selalu ingin belajar, salah satunya dari buku ini :) Kalian tertarik kah untuk baca buku ini juga? Well, happy reading and let me know what you're thinking!

No comments:

Post a Comment

A Welcome Letter!

Hi, Adisfia here!  Akhirnya setelah sekian tahun punya hobi menulis, gue memberanikan diri untuk membiarkan tulisan gue dibaca oleh lebih ba...